Membaca Krisis Turki: Ilusi Kemapanan Ala Erdogan & Rayap Nepotisme

0
41
views

Saya ingin menjelaskan sebab-sebab krisis ekonomi di Turki.

Dalam lima tahun ini, Erdogan telah membuat-buat ilusi, yang menggambarkan seolah-olah ekonomi Turki dalam keadaan baik-baik saja. Namun ilusi itu akhirnya berakhir dan seluruh celah dari rapuhnya ekonomi Turki mulai terlihat.

Pada era pertama, yakni dua periode awal Erdogan (2002-2012) ekonomi Turki benar-benar maju. Hal tersebut disebabkan cukup derasnya investasi asing yang masuk ke Turki, ditambah konsumsi masyarakat meningkat akibat tingginya wisatawan asing yang berbelanja di Turki.

Namun perlu digarisbawahi, kondisi politik ekonomi kala itu masih moderat, sehingga iklim usaha juga mendapat kepercayaan untuk dapat tumbuh secara simultan.

Meski terdengar sedikit berpihak, tetapi menurut saya, keberadaan gerakan Hizmet merupakan salah satu indikator penggerak moderat dan modernisasi ideologi masyarakat.

Keberadaan sekolah yang secara inklusif mencoba melakukan penetrasi ke seluruh Turki, bahkan daerah yang penuh ancaman terorisme, membuat sekolah turki menjadi antidot dari ideologi-ideologi perpecahan yang timbul di tengah masyarakat. Bahkan, keberadaan sekolah turki membuat wali murid acapkali membantu untuk ekspansi yang lebih jauh.

Selain sekolah, gerakan Hizmet juga mempunyai asosiasi pengusaha. Asosiasi ini berusaha menghubungkan, mulai dari small medium enterprise (SME) hingga usaha besar seluruh dunia untuk menjalin komunikasi dan hubungan dagang secara lebih erat.

Hanya saja, semua platform tersebut, perlahan-lahan hancur. Setelah pada 2013 Erdogan muncul dengan wajah baru dan memporak-porandakan semua itu.

Keberpihakan Erdogan mulai terlihat, proyek-proyek strategis mulai diberikan kepada pihak-pihak yang justru tidak ahli di bidangnya. Dia memberikan proyek hanya kepada perusahaan boneka yang mau mendukungnya.

Ketika melakukan protes perlawanan di Gezi Park, Erdogan mulai mengajak masyarakat untuk membatalkan kartu kredit. Erdogan sudah mulai mengajak masyarakat untuk lebih memilih menanamkan uangnya di bank-bank BUMN Turki.

Erdogan juga telah mulai memberikan intervesi terhadap Bank Sentral, yang prinsip independensinya tidak boleh ternodai.

Perlahan, perusahaan-perusahaan boneka tersebut mulai menjalankan proyek-proyek besar, tetapi dengan biaya yang sebenarnya tidak relevan.

Meski demikian, masyarakat tidak protes, karena Erdogan mengklaim proyek tersebut tidak menggunakan uang negara sedikit pun.

Namun faktanya, meski tidak menggunakan uang negara, perusahaan boneka tersebut mengambil kredit investasi yang cukup besar dari bank nasional dan bank-bank di luar negeri dengan jaminan dari pemerintah Turki.

Dan sekarang, dengan hilangnya kepercayaan investor, membuat mata uang makin melemah dan utang pun harus dibayar dengan harga yang berkali-kali lipat mahalnya.

Menteri Keuangan Turki adalah Berat Albayrak, menantu Erdogan, yang menikah dengan anak perempuan Erdogan. Seluruh perusahaan negara, seperti televisi dan maskapai penerbangan sudah dikuasai oleh keluarga Erdogan.

Meski terlihat semua sudah dimiliki oleh Erdogan dan keluarganya, saya masih berharap peradilan  masih dapat membuktikan bahwa kekuasaan Erdogan hanyalah ilusi belaka.

Salah satu bonekanya Erdogan, Rezza Zarrab, pengusaha yang mencoba membobol sistem keuangan Amerika dalam melakukan money laundering telah tertangkap. Begitu juga dengan Hakan Atilla, salah seorang manajer keuangan Halk Bank (Bank BUMN Turki).

Ini sudah mentok, Turki sudah jatuh ke krisis ekonomi.

LEAVE A REPLY